Kamis, 12 November 2009

Efek Rumah Kaca terhadap Bencana Ekologis Dunia

Manusia di seluruh dunia kini mengakui bahwa perubahan iklim telah dan akan terus mengakibatkan bencana besar di berbagai belahan dunia, mulai dari pemanasan suhu permukaan bumi sampai ke kenaikan permukaan air laut, banjir, longsor, dan sebagainya. Perubahan iklim ini telah sukses meresahkan manusia di seluruh dunia, walaupun masalah perubahan iklim sebenarnya disebabkan oleh suatu sistem global yang tidak adil yang secara sengaja atau tidak sengaja diciptakan oleh manusia itu sendiri. Ketidakbertanggungjawaban manusia terhadap lingkungan kerap tidak disadari perlahan-lahan akan merusak bumi. Salah satu inti persoalan semakin parahnya masalah perubahan iklim ini adalah ketidaksediaan negara-negara industri maju dan berkembang untuk melaksanakan semua kewajiban mereka sebagai penghasil emisi rumah kaca terbesar selama ini.


Efek rumah kaca


Fenomena efek rumah kaca atau green house effect ini pertama kali ditemukan oleh fisikawan Perancis Joseph Fourier pada 1824 dan di-buktikan secara kuantitatif oleh Svante Arrhenius pada 1896. Penyebutan nama efek rumah kaca sebenarnya didasarkan atas peristiwa alam yang mirip dengan yang terjadi di rumah kaca yang biasa digunakan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan untuk menghangatkan tanaman di dalamnya. Panas yang masuk ke dalam rumah kaca akan sebagian terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga menghangatkan seisi rumah kaca tersebut.

Efek rumah kaca adalah suatu fenomena dimana gelombang pendek radiasi matahari menembus atmosfer dan berubah menjadi gelombang panjang ketika mencapai permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang tersebut dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun tidak seluruh gelombang yang dipantulkan itu dile¬pas¬kan ke angkasa luar. Sebagian gelombang panjang dipantulkan kembali oleh lapisan gas rumah kaca di atmosfer ke permukaan bumi. Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan untuk menyerap radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi sehingga bumi menjadi semakin panas.

Perubahan panjang gelombang ini terjadi karena radiasi sinar matahari yang datang ke bumi adalah gelombang pendek yang akan memanaskan bumi. Secara alami, agar tercapai keadaan setimbang dimana keadaan setimbang di permukaan bumi adalah sekitar 300 K, panas yang masuk tadi didinginkan. Untuk itu sinar matahari yang masuk tadi harus diradiasikan kembali. Dalam proses ini yang diradiasikan adalah gelombang panjang infra merah.

Proses ini dapat berlangsung berulang kali, sementara gelombang yang masuk juga terus menerus bertambah. Hal ini mengakibatkan terjadinya akumulasi panas di atmosfer, sehingga suhu permukaan bumi meningkat. Hasil penelitian menyebutkan bahwa energi yang masuk ke permukaan bumi: 25 % dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfir, 25 % diserap awan, 46 % diabsorpsi permukaan bumi, dan sisanya yang 4 % dipantulkan kembali oleh permukaan bumi (beberapa penelitian memberikan hasil yang berbeda).

Efek rumah kaca itu sendiri terjadi karena naiknya konsentrasi gas CO2 (karbondioksida) dan gas-gas lainnya seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), gas metan (CH4), kloroflourokarbon (CFC) di atmosfir. Kenaikan konsentrasi CO2 itu sendiri disebabkan oleh kenaikan berbagai jenis pembakaran di permukaan bumi seperti pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara, dan bahan-bahan organik lainnya yang melampaui kemampuan permukaan bumi antuk mengabsorpsinya. Bahan-bahan di permukaan bumi yang berperan aktif untuk mengabsorpsi hasil pembakaran tadi ialah tumbuh-tumbuhan, hutan, dan laut. Jadi bisa dimengerti bila hutan semakin gundul, maka panas di permukaan bumi akan naik.

Energi yang diabsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Hanya saja sebagian sinar infra merah tersebut tertahan oleh awan, gas CO2, dan gas lainnya sehingga kembali ke permukaan bumi. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 dan gas-gas lain di atmosfer maka semakin banyak pula gelombang panas yang dipantulkan bumi diserap atmosfer. Dengan perkataan lain semakin banyak jumlah gas rumah kaca yang berada di atmosfer, maka semakin banyak pula panas matahari yang terperangkap di permukaan bumi. Akibatnya suhu permukaan bumi akan naik.

Dengan meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan perubahan iklim yang tidak biasa. Selain itu hutan dan ekosistem pun akan terganggu. Bahkan dapat mengakibatkan hancurnya gunung-gunung es di kutub yang pada akhirnya akan menga-kibatkan naiknya permukaan air laut sekaligus menaikkan suhu air laut.


Bencana Ekologis
Peningkatan suhu dan perubahan iklim yang tidak biasa ini dapat mengganggu kelangsungan semua ekosistem alam dan mempengaruhi kondisi alam yang akan terakumulasi sehingga terjadi fenomena berubahnya tatanan ekologi. Perubahan tatanan ekologi ini disebut bencana ekologis. Parahnya, perubahan ini terjadi begitu cepat akibat gagalnya pengurusan dan pengelolaan lingkungan oleh manusia yang berujung pada terjadinya bencana di setiap belahan dunia.

Meningkatnya suhu udara dari waktu ke waktu rata-rata pertahun mencapai 1,4 – 5,8 derajat celcius hingga tahun 2100 yang dapat mempengaruhi kenaikan muka air laut mencapai 88 meter, pemanasan suhu global di udara memberi dampak terhadap keseimbangan energi dalam suatu wilayah hingga mengakibatkan kekeringan berkepanjangan, menurunnya produktifitas pertanian, rusaknya suatu ekosistem dan tatanan kehidupan manusia dalam jangka panjang.

Dampak yang terbesar akibat dari perubahan iklim di dunia adalah bencana kekeringan yang terjadi yang terjadi akibat meningkatnya suhu dari rata-rata suhu normalnya sehingga terjadi perubahan musim yang sangat signifikan, hal ini berdampak pada kondisi lahan dan mempengaruhi produktifitas pertanian untuk menghasilkan dapat berdampak pada rusaknya satu ekosistem, tatanan kehidupan manusia, dan kerusakan ekologi. Selain itu dapat mempengaruhi ketersediaan sumberdaya air baik yang ada di permukaan maupun yang ada di bawah permukaan, menjadi fenomena sosial ketika banyak terjadi kekeringan, berkurangnya daya tahan pangan dan hilangnya keberfungsiaan lahan.


Daftar 25 negara penghasil emisi CO2 terbesar :
No Negara Jumlah CO2 yang dihasilkan (dalam ton)
1 Amerika 2.790.000.000
2 China 2.680.000.000
3 Rusia 661.000.000
4 India 583.000.000
5 Jepang 400.000.000
6 Jerman 356.000.000
7 Australia 226.000.000
8 Afrika Selatan 222.000.000
9 United Kingdom 212.000.000
10 Korea Selatan 185.000.000
11 Polandia 166.000.000
12 Italia 165.000.000
13 Taiwan 153.000.000
14 Spanyol 148.000.000
15 Kanada 144.000.000
16 Turki 102.000.000
17 Meksiko 101.000.000
18 Indonesia 92.900.000
19 Iran 86.200.000
20 Ukraina 79.100.000
21 Thailand 76.400.000
22 Arab Saudi 75.900.000
23 Kazakhstan 62.300.000
24 Malaysia 61.100.000
25 Belanda 58.900.000


Berdasarkan data di atas, Indonesia tercatat sebagai penghasil salah satu gas rumah kaca (CO2) ke 18 di dunia. Walaupun bukan yang pertama, yang jelas bukan pula merupakan suatu prestasi, Indonesia sebagai negara yang sedang memacu pertumbuhan industri dan memiliki jumlah penduduk yang besar tentu sangat berpotensi untuk menghasilkan gas rumah kaca tersebut. Perhatian Indonesia pada isu perubahan iklim global telah diwujudkan dalam bentuk penandatanganan konvensi tentang perubahan iklim oleh presiden RI pada tahun 1992. Selanjutnya komitmen nasional terhadap isu ini diwujudkan secara legal melalui ratifikasi konvensi tersebut dalam bentuk UU No. 6 tahun 1994. Indonesia memiliki peran strategis dalam pengurangan emisi gas rumah kaca mengingat posisi sebagai negara ekuator, memiliki hutan tropis, serta sebagai negara kepulauan.

Upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan melakukan tahapan manajemen bencana yang meliputi pencegahan dan mitigasi; kesiapsiagaan; manajemen emergensi, pemulihan dan rencana aksi yang dapat berimplikasi terhadap pengurangan risiko bencana. Upaya peredaman risiko bencana merupakan upaya terpadu dan terencana yang dilakukan dalam manajemen bencana sehingga dapat diimplementasikan ke dalam pengelolaan lingkungan yang berbasis pengurangan risiko bencana, dengan mengurangi efek pemanasan global yang saling berhubungan antara pengurangan risiko bencana, pengurangan global warming dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Peran kita sebagai mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa bahkan dunia sepatutnya dimainkan dengan baik. Hal minimal yang dapat dilakukan adalah menyadari betapa krusialnya masalah ini. Kesadaran yang mendalam diharapkan akan memacu generasi penerus bangsa ini untuk mulai berpikir untuk semesta dan melakukan sesuatu untuk rumah tinggalnya (bumi) yang semakin lama semakin rapuh dan tidak stabil. Salah satunya dengan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca di Indonesia misalnya dengan mengurangi pemakaian AC, memperhatikan pengolahan limbah sampah, meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor, dan tindakan-tindakan nyata lainnya, yang walau terlihat kecil dan sepele, namun bila setiap individu melakukannya maka akan tercipta perubahan besar ke arah yang lebih baik, untuk bumi yang lebih baik. Selanjutnya, melakukan perubahan konstitusional yang mendasar untuk menyusun kembali tatanan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai dan prinsip perlindungan terhadap lingkungan. Jika kita tidak bergerak sekarang, bukan hal yang mustahil anak cucu kita tidak pernah lagi melihat hijaunya alam dan indahnya dunia.


Daftar Pustaka:
Carma. 2009. Dig Deeper: Countries in the World. Available online at: http://carma.org/dig/show/world+country#top (diakses tanggal 10 November 2009).

Faiz, P. M. 2009. Jurnal Lingkungan: Perubahan Iklim Dan Perlindungan Terhadap Lingkungan: Suatu Kajian Berperspektif Hukum Konstitusi.

Hutauruk, G. 2008. Efek Rumah Kaca & Akibatnya. Available online at: http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3177&Itemid=341 (diakses tanggal 10 November 2009).

Irmansyah. 2004. Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca. Available online at: http://rudyct.com/PPS702-ipb/08234/irmansyah.pdf (diakses tanggal 10 November 2009).

Wacana, P. 2008. Bencana Ekologis Sebagai Dampak Perubahan Iklim Global Dan Upaya Peredaman Risiko Bencana. Available online at: http://www.psmbupn.org/article/bencana-ekologi-sebagai-dampak-perubahan-iklim-global-dan-upaya-peredaman-risiko-bencana.html (diakses tanggal 10 November 2009).

8 komentar:

  1. PERTAMAAAXXX!!

    blog baru ya?
    oke juga..
    saya dari SMA belajar tentang gas rumah kaca tapi lupa2 terus...ga inget...hhe..
    makasih udah diingetin..
    keep blogging!

    BalasHapus
  2. wew...
    perokok hrus dibasmi nih..haha^^
    biar g banyak ngeluarin asep...

    BalasHapus
  3. @just a blogwalker:
    iya nih blog baru...
    semoga artikel ini bermanfaat yah...

    kurangi emisi CO2 dimana pun anda berada...
    oke^^

    BalasHapus
  4. untuk aci...

    iya...perokok memang seharusnya berpikir ke depan...berpikir untuk diri mereka sendiri, berpikir untuk lingkungan sekitar mereka, dan berpikir untuk semesta...^^

    asap rokok,selain berdampak buruk pada kualitas udara..juga buruk untuk kesehatan, bukan?

    mungkin kurang tepat bila dibasmi...tapi mungkin dikurangi...
    karena revolusi tidak datang ke semua orang...banyak orang yang bisa berubah dengan proses,terkadang proses berlangsung lama...

    tidak ada yang salah dan tidak ada dosa yang akan didapat bila kita saling menasihati dalam kebaikan..:)

    mari terapkan hidup sehat!
    WORLD NO TOBBACO EVERYDAY!^^

    BalasHapus
  5. tapi kayaknya yang parah itu dari asep2 kendaraan deh??
    ya ga sih??asep rokok kan emisi gas CO2nya ga separah di kendaraan...
    kayaknya seru yah..semua kendaraan diganti ama sepeda??hahahaha^^

    BalasHapus
  6. ya. kamu benar.
    CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan dan industri (pabrik) memang termasuk yang terbanyak.

    Sayangnya, di dunia, kemajuan industri dan jumlah penduduk suatu negara berbanding lurus dengan produksi emisi CO2 nya.

    Lihat pada artikel...Amerika sang negara adidaya berada pada urutan pertama...
    Begitu pula dengan China sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia yang berada di tingkat kedua..

    Seperti yang sudah saya singgung sedikit pada artikel di atas, yaitu salah satu inti persoalan semakin parahnya masalah perubahan iklim ini adalah ketidaksediaan negara-negara industri maju dan berkembang untuk melaksanakan semua kewajiban mereka sebagai penghasil emisi rumah kaca terbesar selama ini.

    Seharusnya, semakin negara itu maju, semakin mereka bisa mengantisipasi dampak buruk dari limbah industri yangsangat mungkin akan merusak lingkungan.

    oh ya...tentang kendaraan yang diganti dengan sepeda..
    mungkin beberapa orang akan menganggap hal tersebut adalah ide yang tidak cukup baik mengingat banyaknya waktu dan tenaga yang banyak dikorbankan..

    Menurut saya, peningkatan kualitas dan kuantitas angkutan massal, seperti busway, kereta, bus harus dilaksanakan.
    Angkutan massal yang nyaman dengan harga yang terjangkau mungkin akan membuat masyarakat berpikir untuk membeli kendaraan pribadi...

    :)

    BalasHapus
  7. kayaknya lama2 orang2 jaman sekarang balik lagi ke jalan kaki deh..^^hohoho...

    BalasHapus
  8. iya...aci...
    kalau ke kampus, selagi bisa jalan kaki, tidak perlu naik angkot..
    setuju?
    hhahaha

    BalasHapus

it's okay if you're opinionated. berkomentarlah :D